Monolog Pagi

Perjalanan pagi menuju kantor menentukan mood selama beberapa belas jam ke depan, delapan jam reguler dan beberapa jam lembur. Jadi, momen pagi adalah momen yang harus dijaga atas nama kualitas yang harus dijunjung tinggi pada setiap hal yang dikerjakan, nilai perusahaan yang sangat meresap di relung kalbu (kemudian bersiap untuk batuk darah, hahaha). Disini saya, di momen pagi, duduk menunggu kereta, mode transportasi publik favorit karena efisiensi dan kenyamanannya. Selain itu, kereta adalah tempat yang menyenangkan untuk menjadi pemerhati populasi atau hanya untuk memikirkan hal-hal absurd. Menurut saya, banyak hal menarik yang didapatkan dari perjalanan dengan kereta, seperti sekarang.

Akhirnya kereta yang ditunggu datang, lebih cepat datangnya dari jodoh =P. Semua orang yang menunggu pun masuk ke dalam kereta, bersiap menjemput cita-cita atau sesederhana menunaikan tugas sebagai pekerja. Begitu juga saya, bersiap melebur menjadi bagian dari kaum pekerja di kota besar Jakarta.

Pagi ini seperti pagi pada biasa, saya berdiri bersandar pada pintu kiri, menghadap pintu kanan di antara orang-orang dengan tujuan yang sama, rutinitas. Di sebelah kanan terlihat grup ibu-ibu cantik dengan obrolan tentang keluarga dan bos baru salah satu personil dari grup tersebut. Di sebelah kiri, pria di akhir umur 20an sibuk menyentuh smartphone terkini, berdiri tegak, kemudian menoleh dan tersenyum manis. Saya membalas senyum, ia terlihat menarik, namun seperti gestur pada wanita kebanyakan, saya kembali menyapukan pandangan ke arah lain, semacam berniat menjadi acuh menggemaskan.

Pandangan pun terhenti pada satu sosok, di sudut gerbong, wanita di umur 20an awal, berpakaian rapih dengan rambut sebahu, manis. Berpenampilan seperti pada pekerja kantoran dengan laptop tersampir di bahu kirinya. Pose berdirinya terlihat angkuh, namun matanya terlihat lelah, earphone tersambung dari smartphone menuju kuping. Ia memandang lurus, tapi lepas dari dunia, seperti sedang mengawang. Orang bilang mata adalah jendela hati pemiliknya, sorot matanya kosong seperti ada yang hilang, seperti pernah fokus pada satu titik namun kemudian terkhianati. Mungkin lelah pada cita-cita yang tak kunjung tercapai atau mungkin lelah menjaga hati untuk orang yang tak pernah menyadari. Mata yang menarik, mata yang familiar akhir-akhir ini.

Pandangan saya pun tak terlepas dari wanita itu, diiringi lagu Coldplay – Trouble yang membisik nyaman di telinga. Lagu yang menemani dengan setia di playlist telepon genggam selama satu minggu terakhir. I never meant to cause you trouble. I never meant to do you wrong. Oh, well If I ever cause you a trouble, no, I never meant to do you harm.

Seperti halnya kereta yang terus berlalu di antara jalur relnya, waktu pun begitu. Stasiun Sudirman yang dituju sudah hampir tiba. Saya pun bergerak menuju pintu. Sebelum keluar, saya kembali mengerling pada wanita itu, sosok di pantulan kaca jendela gerbong, melepaskan senyum, menguatkan. Senyum yang mengisyaratkan bahwa semua akan kembali menjadi baik-baik saja, kita akan baik-baik saja =).

Terbakar dan Luruh

Tak perlu kau ucap cemburu

Aku yang lebih dahulu menjadi abu

Tak pernahkah terlihat mata ini berjelaga olehmu

Hangus membaca perhatian yang bukan untukku

 

Haruskah bertahan pada bara pilihan dungu

Terus menari dalam api yang berkobar dan menderu

Hingga habis terbakar dan menjadi debu

 

Atau adakah kesempatan menghangat dalam cahaya dan luruh

Kamu, cemburu, rindu, aku jadi satu

 

 

Rindu bersandar

Mencurangi hari dengan menapaki rindu

Memperpanjang malam dengan mengeja rasa

Merangkak naik matahari, merah keemasan

Hati ini tenggelam, menghabiskan nafas pada keheningan

 

Mungkin langit jadi saksi

Ketika waktu berlalu dan kenangan terus kembali

Berdiri pun tak lagi tegak

Rasanya rindu bersandar pada saat ini

Bukan kemarin atau masa yang telah berlalu

 

 

Menyapa Pagi

Pagi. rindu. Yang terbersit cuma satu, menyapa kamu.

Pagi, rindu. Kenapa sendu? Mungkin karena belum tuntas merindu.

 

Pagi, rindu. Semoga cepat berlalu. Iya, kamu.

Pagi, rindu. Hampir lelah menunggu,terlalu bisu.

 

Pagi, rindu. Badan ini panas, sakit kamu.

Pagi, rindu. Tak perlu ditambah cemburu. Sudah cukup lebam dan biru.

 

Pagi, rindu. Cuma satu, masih kamu.